Suku Tengger : Kearifan Sang Penjaga Tanah Bromo Tengger Semeru


 
    Bayangkan kamu sedang berdiri di penanjakan saat waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Angin gunung yang menusuk tulang membuatmu merapatkan jaket tebal. Di sekelilingmu, kabut putih masih menggulung pekat, menyembunyikan lautan pasir Bromo dan siluet gagah Gunung Semeru di kejauhan. Lalu, di tengah dingin yang menggigit itu, kamu melihat secercah kehangatan. Beberapa pria berjalan tenang melewati pekatnya kabut. Mereka tidak memakai jaket outdoor berbahan canggih, melainkan hanya berbalut sarung yang disampirkan di pundak dan udeng (ikat kepala) kain. Wajah mereka tersenyum ramah, menyapa dengan anggukan kecil.

Mereka adalah masyarakat Suku Tengger. Bagi kita yang datang dari kota yang riuh dan bising, Bromo mungkin hanyalah tempat pelarian akhir pekan atau latar foto untuk media sosial. Tapi bagi mereka, hamparan tanah vulkanik ini adalah rumah, tempat ibadah, dan denyut nadi kehidupan. Di tengah laju modernisasi yang sering kali membuat kita merasa selalu "kurang", Suku Tengger berdiri kukuh menjaga satu rahasia kebahagiaan purba: hidup selaras dengan alam.

Rara Anteng dan Jaka Seger: Romansa yang Melahirkan Keteguhan

    Mari kita putar waktu sejenak. Berabad-abad lalu, ketika senja kala Kerajaan Majapahit tiba di abad ke-15, sekelompok masyarakat memilih menyingkir dari pusaran konflik politik dan agama. Mereka berjalan mendaki lereng-lereng sunyi di sekitar Bromo dan Semeru, mencari suaka untuk tetap memeluk kepercayaan leluhur mereka. Dari sanalah identitas ini bermula. Nama "Tengger" sendiri bukanlah sekadar sebutan geografis. Nama ini diyakini sebagai gabungan dari dua leluhur mereka: Rara Anteng dan Joko Seger. Kata Anteng bermakna tenang atau teguh, sementara Seger bermakna hidup atau menyegarkan.

    Sampai detik ini, kamu bisa melihat warisan sifat itu dalam keseharian mereka. Bahasa yang mereka tuturkan sehari-hari adalah dialek Jawa Kuno yang unik. Di sini, tidak ada tingkatan kasta bahasa yang rumit (seperti ngoko atau krama yang ketat). Semua orang berbicara dengan setara. Mereka memanusiakan manusia lainnya tanpa sekat, sebuah kehangatan sosial yang mulai langka kita temukan di hiruk pikuk kota.

Kehidupan di Dekat Tungku (Pawon)

    Jika kamu berkesempatan singgah atau menginap di homestay milik warga Tengger di desa-desa seperti Ngadisari atau Ranu Pani, cobalah tengok bagian dapurnya. Rumah mereka biasanya berdinding kayu atau bata yang tertutup rapat untuk menahan hawa dingin. Di dalam rumah-rumah sederhana itu, pusat kehidupannya justru berada di dapur, tepatnya di sekitar tungku api (pawon). Di depan perapian inilah mereka menghangatkan badan, memasak hasil kebun, dan mengobrol. Tidak ada gengsi, tidak ada perabotan mewah berlapis emas. Di sudut ruangan, kamu akan sering menemukan altar kecil tempat meletakkan sesajen—sebuah pengingat harian untuk selalu berterima kasih kepada Sang Pencipta dan leluhur.

    Sebelum embun pagi benar-benar kering, para pria dan wanita Tengger sudah memanggul cangkul menuju ladang. Di tebing-tebing curam dengan kemiringan ekstrem, mereka menanam kentang, kubis, dan daun bawang dengan tangan kosong. Tidak ada traktor raksasa yang merusak kontur tanah. Mereka mengikuti lekuk bumi, merawatnya seolah merawat tubuh sendiri. Bagi orang Tengger, tanah bukanlah komoditas untuk dieksploitasi sampai habis. Tanah adalah ibu yang harus dihormati. Itulah mengapa, meski Semeru atau Bromo terkadang batuk dan erupsi, mereka tidak pernah menyalahkan alam. Bencana bagi mereka adalah pesan spiritual—sebuah teguran bahwa manusia mungkin mulai lupa merawat harmoni.

Yadnya Kasada: Melepaskan untuk Mendapatkan

    Berbicara tentang Suku Tengger tak lengkap rasanya tanpa membicarakan Yadnya Kasada. Ritual sakral ini digelar setiap tahun di malam bulan purnama bulan kesepuluh (Kasada) penanggalan tradisional mereka. Pada malam yang dingin itu, lautan pasir Bromo dipenuhi oleh ribuan warga Tengger yang berjalan kaki membawa ongkek—pikulan bambu berisi hasil bumi, buah-buahan, sayuran, hingga ternak. Mereka mendaki bibir kawah Bromo yang curam dan berasap belerang. Di sana, mereka melemparkan persembahan tersebut ke dalam kawah yang menganga.

    Bagi kacamata orang luar, membuang hasil panen yang susah payah ditanam mungkin terlihat sebagai pemborosan. Namun, inilah puncak dari filosofi hidup mereka. Kasada adalah simbol dari keikhlasan tingkat tinggi. Sebuah pengingat bahwa semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Sang Hyang Widhi (Tuhan). Dengan merelakan sebagian hasil keringat mereka ke kawah, mereka sedang membersihkan diri dari sifat serakah. Bukankah ini tamparan halus bagi kita yang sering kali stres karena terus-terusan menimbun harta?

Penjaga Tradisi di Tengah Arus Pariwisata

    Tentu saja, zaman terus berubah. Bromo kini didatangi ribuan turis dan deru mesin Jeep hardtop setiap harinya. Anak-anak muda Tengger kini banyak yang memegang smartphone, menjadi pemandu wisata, atau membuka jasa homestay. Godaan budaya instan dan konsumtif jelas ada di depan mata. Namun, akar yang ditanamkan oleh leluhur mereka terlalu kuat untuk dicabut. Para tetua adat (Dukun Pandita) terus merawat nyala api tradisi ini. Mereka mengajarkan bahwa boleh saja mencari rezeki dari pariwisata, asalkan tidak merusak hutan, tidak mengotori mata air, dan tidak menjual keyakinan.

Temukan Titik Terangmu di Tanah Tengger

    Saat kita berkunjung ke Bromo Tengger Semeru, cobalah untuk tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Duduklah sejenak. Amati bagaimana Suku Tengger menjalani hari-harinya. Dalam kesederhanaan sarung yang melingkar di leher mereka, ada pelajaran berharga yang bisa menerangi pikiran kita yang kusut. Mereka mengajarkan prinsip Tri Hita Karana dalam wujud paling nyata: menjaga keseimbangan dengan Tuhan, berdamai dengan sesama manusia, dan merawat alam dengan penuh kasih sayang.

    Di dunia modern yang memaksa kita untuk selalu bergerak lebih cepat dan mengumpulkan lebih banyak, Suku Tengger menampar kita dengan lembut. Mereka membuktikan bahwa kebahagiaan justru sering kali ditemukan saat kita tahu kapan harus merasa cukup. Lain kali kamu merencanakan perjalanan ke Bromo untuk mencari padhang (titik terang) di tengah kelelahan mentalmu, sapalah warga Tengger. Belajarlah dari mereka, para penjaga harmoni di atas awan, bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang bisa kita genggam, melainkan apa yang bisa kita relakan.
Padhang - Enlighten Your Journey | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi