Bab I Pendahuluan
Candi Pari merupakan salah satu peninggalan candi Hindu-Buddha yang berada di wilayah Sidoarjo, tepatnya di Kecamatan Porong. Keberadaan candi ini menarik perhatian karena bentuk arsitekturnya yang berbeda dibanding banyak candi di Jawa Timur, terutama penggunaan bata merah sebagai material utama. Candi Pari menjadi bukti bahwa kawasan Sidoarjo pernah menjadi bagian penting dalam lanskap sejarah dan kebudayaan Jawa pada masa klasik.
Di tengah dominasi narasi sejarah yang sering berpusat pada wilayah Trowulan atau kawasan pegunungan Jawa Timur, Candi Pari hadir sebagai pengingat bahwa wilayah dataran rendah dan delta sungai juga memiliki peran strategis dalam peradaban masa lalu. Candi ini tidak berdiri sebagai monumen megah, tetapi sebagai struktur yang menyimpan informasi penting tentang teknologi bangunan, kepercayaan, dan jaringan kekuasaan pada masanya.
Bab II Pembahasan
II.I Identitas & Data Utama
Candi Pari adalah bangunan candi bercorak Hindu yang diduga berasal dari masa Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14 Masehi. Candi ini memiliki denah persegi panjang dengan orientasi menghadap ke arah barat. Material utama yang digunakan adalah bata merah yang disusun rapi, sebuah ciri khas arsitektur Majapahit. Secara administratif, Candi Pari berada di Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, dan telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang dilindungi negara. Sebagai tinggalan arkeologis, Candi Pari memiliki nilai penting dalam memahami persebaran budaya Majapahit di wilayah pesisir dan dataran rendah Jawa Timur.
II.II Latar Sejarah & Asal-Usul
Candi Pari diperkirakan dibangun pada abad ke-14 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, salah satu raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Penanggalan ini merujuk pada Prasasti Pari yang ditemukan tidak jauh dari lokasi candi, yang menyebutkan angka tahun 1293 Saka atau sekitar 1371 Masehi. Prasasti tersebut menjadi sumber utama yang mengaitkan Candi Pari dengan konteks sejarah Majapahit secara lebih pasti dibanding banyak situs lain di wilayah Sidoarjo.
Isi prasasti menyebutkan pembangunan sebuah bangunan suci (dharma) yang berkaitan dengan pemberian status tanah perdikan. Tanah perdikan merupakan wilayah yang dibebaskan dari pajak kerajaan dan biasanya diberikan untuk mendukung kegiatan keagamaan. Hal ini mengindikasikan bahwa Candi Pari tidak berdiri secara terisolasi, melainkan menjadi bagian dari sistem keagamaan dan administrasi negara Majapahit.
Nama “Pari” sendiri memunculkan beberapa tafsir. Dalam bahasa Jawa Kuno, kata pari dapat merujuk pada padi atau hasil pertanian. Tafsir ini memperkuat dugaan bahwa wilayah sekitar Candi Pari pada masa itu merupakan kawasan agraris penting yang menopang kehidupan ekonomi dan logistik kerajaan. Dengan demikian, pembangunan candi di wilayah Porong dapat dipahami sebagai bentuk integrasi antara kekuasaan politik, aktivitas keagamaan, dan basis ekonomi pertanian.
Letak Candi Pari di dataran rendah delta Sungai Brantas juga memiliki makna strategis. Pada masa Majapahit, Sungai Brantas dan anak-anak sungainya merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan kawasan pesisir. Porong dan sekitarnya diperkirakan menjadi simpul penting dalam jaringan distribusi hasil bumi dan perdagangan. Kehadiran candi di kawasan ini dapat dipahami sebagai penanda religius sekaligus simbol legitimasi kekuasaan Majapahit di wilayah strategis tersebut.
Berbeda dengan candi-candi monumental di pusat kerajaan seperti di Trowulan, Candi Pari menunjukkan karakter bangunan yang lebih sederhana dan fungsional. Hal ini memperkuat dugaan bahwa candi ini berfungsi sebagai bangunan keagamaan tingkat lokal, yang melayani komunitas tertentu, bukan sebagai pusat pemujaan berskala besar. Namun, kesederhanaan ini tidak berarti rendah nilai. Justru dari sini terlihat bagaimana sistem keagamaan Majapahit menjangkau hingga tingkat desa dan wilayah penyangga.
Dalam konteks kepercayaan, meskipun tidak ditemukan arca utama atau relief naratif yang jelas, orientasi bangunan dan bentuk pintu masuk menunjukkan pengaruh kuat Hindu. Ketiadaan ornamen berlebihan juga sejalan dengan gaya arsitektur Majapahit akhir yang lebih menekankan struktur dan fungsi dibanding dekorasi simbolik.
Dengan demikian, Candi Pari dapat dipahami sebagai bagian dari lanskap sejarah Majapahit yang lebih luas: sebuah bangunan suci yang berdiri di wilayah agraris strategis, didukung oleh sistem administrasi kerajaan, dan berfungsi sebagai pengikat antara kehidupan spiritual, ekonomi, dan politik masyarakat setempat. Keberadaannya memperlihatkan bahwa kekuasaan Majapahit tidak hanya hadir melalui pusat-pusat besar, tetapi juga melalui situs-situs lokal yang tersebar di wilayah delta dan pesisir Jawa Timur.
II.III Arsitektur dan Struktur Bangunan
Secara arsitektural, Candi Pari memiliki bentuk yang relatif sederhana namun kokoh. Bangunan utama berdiri di atas batur (alas) dengan tangga di sisi barat sebagai akses masuk. Pintu masuk candi berbentuk persegi dengan ambang atas yang sederhana, tanpa hiasan relief yang rumit.Penggunaan bata merah menjadi ciri paling menonjol. Bata-bata ini disusun dengan presisi tinggi tanpa perekat semen modern, menunjukkan penguasaan teknik konstruksi yang maju. Permukaan bata yang rata dan sudut-sudut bangunan yang tegas memperlihatkan kualitas pengerjaan yang sangat baik.
Berbeda dengan candi-candi batu andesit di Jawa Tengah, Candi Pari menunjukkan adaptasi arsitektur terhadap sumber daya lokal serta kondisi lingkungan dataran rendah yang lembap.
II.IV Lingkungan dan Tata Letak
Candi Pari berdiri di kawasan dataran rendah yang relatif dekat dengan jalur sungai dan daerah persawahan. Letaknya yang tidak berada di kawasan pegunungan menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan Majapahit tidak selalu terpusat di wilayah tinggi, tetapi juga menyebar mengikuti pusat-pusat permukiman dan ekonomi. Tata letak Candi Pari yang berdiri sendiri tanpa kompleks besar di sekitarnya mengindikasikan bahwa candi ini kemungkinan memiliki fungsi spesifik dan berskala lokal. Namun, keberadaannya tetap penting sebagai bagian dari jaringan situs Majapahit di Jawa Timur bagian timur. Lingkungan sekitar candi saat ini telah mengalami perubahan signifikan akibat perkembangan permukiman dan infrastruktur, meskipun area inti candi masih terjaga.
II.V Fungsi dan Peran Candi Pari
Fungsi utama Candi Pari diperkirakan sebagai bangunan keagamaan. Sebagai candi Hindu, bangunan ini kemungkinan digunakan untuk pemujaan dewa tertentu atau sebagai tempat ritual yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Majapahit. Selain fungsi religius, Candi Pari juga dapat dipahami sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi budaya. Pembangunan candi di wilayah strategis seperti Porong menunjukkan upaya Majapahit dalam menegaskan pengaruhnya di kawasan pesisir dan delta sungai.
Dengan demikian, Candi Pari tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda kehadiran politik dan budaya Majapahit di wilayah Sidoarjo.
II.VI Candi Pari dalam Konteks Sejarah Majapahit
Keberadaan Candi Pari memperkaya pemahaman tentang luasnya pengaruh Majapahit. Selama ini, pusat Majapahit sering dikaitkan dengan wilayah Trowulan, Mojokerto. Namun, situs-situs seperti Candi Pari menunjukkan bahwa pengaruh tersebut menjangkau wilayah pesisir dan dataran rendah yang memiliki peran penting dalam jaringan ekonomi dan maritim.
Sidoarjo pada masa Majapahit diperkirakan menjadi bagian dari wilayah penyangga yang mendukung aktivitas perdagangan, pertanian, dan transportasi. Candi Pari berdiri sebagai bukti fisik keterhubungan wilayah ini dengan pusat kekuasaan Majapahit.
II.VII Fakta Menarik & Hal yang Sering Terlewat
Candi Pari dibangun sepenuhnya dari bata merah, tanpa penggunaan batu andesit yang umum ditemukan pada candi-candi Jawa Tengah. Hal ini menjadikannya contoh penting arsitektur Majapahit. Orientasi candi yang menghadap ke barat relatif jarang dibanding candi-candi lain di Jawa Timur, yang sering menghadap ke timur. Meski berada di wilayah yang kini dikenal sebagai daerah industri dan permukiman padat, Candi Pari berhasil bertahan sebagai situs sejarah yang masih utuh secara struktur.
V.III Kondisi Terkini dan Upaya Pelestarian
Saat ini, Candi Pari berada di bawah pengelolaan instansi pelestarian cagar budaya. Upaya perawatan dilakukan untuk menjaga struktur bata agar tidak mengalami kerusakan akibat cuaca dan kelembapan. Tantangan utama pelestarian Candi Pari adalah tekanan lingkungan sekitar, seperti polusi, getaran lalu lintas, dan perubahan tata ruang wilayah. Selain itu, tingkat kunjungan yang masih relatif rendah membuat candi ini kurang dikenal dibanding situs Majapahit lainnya. Edukasi publik dan pengembangan wisata sejarah berbasis komunitas menjadi peluang untuk meningkatkan perhatian terhadap Candi Pari tanpa mengorbankan kelestariannya.
Bab III Penutup
Di dataran rendah Sidoarjo, Candi Pari berdiri dalam senyap, menyimpan jejak masa ketika bata merah disusun dengan keyakinan dan tujuan. Ia tidak meminta sorotan besar, tetapi tetap bertahan sebagai pengingat bahwa sejarah tumbuh di banyak tempat—termasuk di tanah yang kini kita lewati setiap hari. Selama Candi Pari dijaga dan dipahami, ia akan terus berbicara tentang masa lalu dengan bahasa yang tenang namun bermakna.

Social Media
Search